SULSELPEDIA — Upaya peningkatan kualitas dan keamanan pangan produk lokal di Sulawesi Selatan terus mendapat dukungan nyata dari kalangan akademisi.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026, akademisi dari STIE Tri Dharma Nusantara melaksanakan pendampingan penguatan sistem pengendalian mutu bagi UMKM Pusat Madu Sulawesi.
Kegiatan pendampingan ini dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi Manajemen STIE Tri Dharma Nusantara, Dr. Andi Tenri Lawa Putri L. Haris M.Si. Bersama timnya, pendampingan ini berfokus pada “Pusat Madu Sulawesi” yang telah mendapatkan Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
Nomor Kontrol Veteriner (NKV) merupakan sertifikat jaminan kelayakan higiene dan sanitasi yang menjadi syarat mutlak dalam pengolahan produk pangan asal hewan, termasuk madu.
Pencapaian standar NKV ini diharapkan mampu memberi kepastian bagi konsumen bahwa produk madu yang dihasilkan higienis, teruji, dan bebas dari kontaminasi.
Founder Pusat Madu Sulawesi, Zulkarnaen, menyambut positif program kemitraan dan pengabdian masyarakat ini. Menurutnya, bimbingan teknis mengenai penerapan manajemen mutu dan kelayakan sanitasi sangat dibutuhkan oleh para pelaku UMKM madu lokal agar dapat naik kelas dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional.

“Kolaborasi bersama civitas akademika STIE Tri Dharma Nusantara ini menjadi pijakan penting bagi kami di Pusat Madu Sulawesi. Dengan pendampingan seperti ini dan dengan adanya Sertifikasi NKV, kami berkomitmen untuk menjaga keaslian dan standar mutu tertinggi madu Sulawesi dari hulu hingga hilir,” ujar Zulkarnaen.
Sementara itu, Andi Tenri Lawa Putri mengungkapkan bahwa keberhasilan memperoleh hibah pendanaan dari BIMA Kemendiktisaintek 2026 ini merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memberdayakan perekonomian masyarakat.
“Melalui pendekatan manajemen operasional dan mutu, program ini diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan keunggulan kompetitif mitra, tetapi juga mampu menginspirasi UMKM kuliner dan pangan lainnya di Sulawesi Selatan,” harapnya.
Langkah kolaboratif antara akademisi dan pelaku usaha ini diharapkan menjadi contoh nyata sinergi triple-helix dalam mendorong potensi lokal Sulawesi menjadi produk unggulan bertaraf standar keamanan tinggi.(*)




