SULSELPEDIA – Festival Budaya Kaluppini 2026 resmi dibuka pada Senin, 3 Agustus 2026, di Desa Kaluppini, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Mengusung tema “Merawat Warisan, Menghidupkan Pengetahuan”, festival ini akan berlangsung selama 7 hari, dari tanggal 3 hingga 6 Agustus 2026, dan diikuti oleh masyarakat adat Kaluppini dari berbagai usia serta didukung oleh pemerintah daerah setempat.
Festival ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menghidupkan kembali pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat adat Kaluppini yang selama ini mulai berjarak dengan generasi muda.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi:
• Pameran Budaya — menampilkan kekayaan budaya Kaluppini melalui enam ruang utama: pangan lokal, peralatan tradisional, tenun, obat-obatan tradisional, anyaman, dan foto arsip.
• Pertunjukan Seni — tari, musik, teater, dan vokal tradisional sebagai ruang perayaan identitas dan penyampaian cerita leluhur kepada generasi muda.
• Pawai Budaya — arak-arakan warga dari berbagai usia dan gender mengelilingi kampung untuk menampilkan kekayaan tradisi, hasil alam, dan budaya Kaluppini.
• Susur Kampung — kunjungan ke Sapo (rumah adat Kaluppini), pembuatan gula aren (magolla), pengumpulan bahan masak dari alam, hingga memasak dan makan bersama di Sungai Likubassi.
• Kelas Memasak — belajar resep warisan dan citarasa khas Kaluppini menggunakan bahan alami, yang diajarkan langsung oleh perempuan adat penjaga dapur Kaluppini.
• Lomba Permainan Tradisional — permainan seperti jengka, cukke, gasing, dan lainnya sebagai sarana melatih sportivitas, kerja sama, dan kebersamaan.
• Mettoto — tradisi syukuran atas limpahan berkah, hasil panen, keselamatan, dan kelancaran kegiatan komunitas.
Direktur Festival Budaya Kaluppini, Taufik, menjelaskan bahwa festival ini berakar dari inisiatif masyarakat sejak tahun 2017 melalui lomba gasing, yang kemudian menumbuhkan kesadaran anak muda akan pentingnya mendalami pengetahuan leluhur yang mulai terasa asing bagi mereka.
Sejak 2019, konsep festival dikembangkan dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan partisipatif, hingga akhirnya kembali digelar pada tahun 2026 dengan tiga fase: eksplorasi budaya, perayaan, dan diseminasi budaya.
“Eksplorasi budaya dilakukan dengan mengeksplorasi kembali kebudayaan, pengetahuan dan kearifan lokal yang dimiliki oleh orang tua kami. Eksplorasi itu dilakukan sebelum kegiatan perayaan ini dengan bertemu langsung dengan para perempuan adat, mendengarkan mereka mendongeng, melihat mereka memainkan alat musik dan mendengarkan cerita pengalaman kecil mereka. Dari situlah kami memahami dan menyadari bahwa ternyata masih banyak pengetahuan orang tua kita yang belum sampai ke generasi muda. Hal-hal yang ditemukan di fase eksplorasi budaya, kita ekspresikan dalam perayaan festival budaya kaluppini ini,” ungkap Taufik dalam Sambutannya.
Kepala Desa Kaluppini, Muh Salata, menambahkan bahwa festival ini menjadi momentum bagi generasi muda untuk kembali menyadari nilai dari pengetahuan dan kebiasaan leluhur, mulai dari permainan tradisional hingga pangan lokal seperti battang dan jagung lokal yang dahulu menjadi makanan pokok masyarakat.
“Melalui kegiatan kegiatan festival budaya kaluppini ini kita kembali belajar untuk memahami bahwa ternyata Banyak sekali pengetahuan-pengetahuan orang tua kita yang mestinya tidak boleh diabaikan. Di daerah lain banyak yang sudah bercerita kalau mereka telah menyesal telah meninggalkan apa yang menjadi kebiasaan dan pengetahuan baik yeng telah ada sejak jaman leluhur mereka. hal seperti itu semoga tidak terjadi di budaya kita,” kata Salata.
Sementara itu, Abdul Halim selaku Pemangku Adat Kaluppini mengajak masyarakat untuk tidak memaknai festival ini hanya sebagai perayaan semata, melainkan sebagai pengingat akan pengetahuan pengolahan pangan dan kearifan lokal yang perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Esensi festival budaya kaluppini ini adalah mengingatkan kearifan budaya kita, cara terhubung dengan manusia, cara kita berbicara, cara bersikap santun ke sesama. Cara kita menghormati pohon, cara kita menghormati gunung dan air karena ini dititipkan kepada kita. Jangan berhenti atau hanya kita yang menikmati, tapi kita upayakan rawat dan tranformasi kan pengetahuan itu ke anak cucu kita,” jelas Halim.
Pada fase ketiga, hasil dari kelas-kelas budaya akan dirangkum dalam sebuah buku yang akan disebarluaskan ke sekolah-sekolah dasar sebagai upaya mendokumentasikan dan menggaungkan narasi kebudayaan Kaluppini kepada khalayak yang lebih luas.
Melalui festival ini, masyarakat Kaluppini berharap dapat meluaskan cara pandang publik yang selama ini melihat budaya Kaluppini hanya dari sisi estetika, menjadi pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana masyarakat adat Kaluppini menjaga hubungan dengan alam, menghadapi krisis iklim melalui pangan lokal, dan mewariskan pendidikan alternatif melalui kesenian dan keterampilan tradisional.(*)




