UMKM  

Akses Kredit Janjikan Peluang Besar

Sulselpedia.com – Pandemi virus corona (Covid-19) memberikan dampak negatif ke semua sektor. Tak terkecuali untuk Usaha Menengah Kecil Mikro (UKM).

Padahal di Indonesia sendiri, UMKM menjadi salah satu ujung tombak perputaran ekonomi dalam negeri. UMKM memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Namun demikian, UMKM justru menjadi industri yang rentan. Sejauh ini tidak sedikit UMKM yang harus menutup usahanya sementara, karena berbagai tantangan yang timbul.

Guna membantu UMKM menghadapi masa sulit ini, pemerintah, institusi keuangan serta para pemangku kepentingan lain dalam ekosistem bisnis seperti asosiasi industri hingga perusahaan teknologi ikut serta dalam upaya menjaga dan meningkatkan ketahanan dari UMKM sehingga mampu bertahan hingga pandemi usai.

Ekonom UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja mengatakan akses kredit dari perbankan ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah perlu ditingkatkan. Meski demikian, hingga saat ini perbankan masih sulit memberikan akses kredit ke UMKM. Padahal walaupun banyak risiko, ada banyak peluang besar dalam menggarap segmen UMKM ini.

Baca Juga :  10+ Ide Usaha Rumahan Kreatif, Raih Cuan Cukup dari Rumah

“Tentu saja ada resiko. Tapi ada juga peluang besar,” kata Enrico dalam Media Roundtable Discussion UOB Indonesia secara virtual.

Menurutnya, memberikan akses pembiayaan kepada UMKM memiliki potensi yang menjanjikan. Asalkan industri keuangan jeli mengidentifikasi UMKM yang berpotensi tumbuh.

“Identifikasi UMKM yang sangat berpotensi, lalu dukung memberikan kredit, dibanding negara lain, Indonesia lebih berpeluang besar. Karena usia penduduk Indonesia yang muda dan konsumsi market yang akan naik,” ujar Enrico.

Sementara itu, berdasarkan Kajian Transformasi UKM ASEAN 2020, United Overseas Bank (UOB) berkolaborasi dengan Accenture dan Dun & Bradstreet (D&B) yang melakukan survey terhadap 1,000 UKM di lima Negara di Asean – Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam, sebesar 52 persen UKM menyatakan bahwa penurunan penjualan adalah kekhawatiran terbesar sebagai dampak dari pandemi COVID-19 diikuti dengan tekanan terhadap arus kas (49 persen).

Baca Juga :  Ratusan Peserta Apresiasi Diskusi Kewirausahaan STIE Nobel

“Guna mengatasi kekhawatiran ini, 88 persen UKM memilih untuk mengurangi biaya untuk memperbaiki efisiensi diikuti dengan 79 persen UKM memilih untuk mengurangi biaya pemasaran,” ujar Business Dev & Strategic Alliance Head UOB Indonesia, Charles Anthony Bunaini.

Pandemi juga menuntut UKM untuk mengevaluasi kembali strategi dan rencana investasi masa depan. 58 persen UKM yang disurvei menyatakan tidak akan melanjutkan rencana investasi yang sudah dipersiapkan di tahun ini.

Baca Juga :  Bank Mandiri Gelontorkan Kredit PEN kepada Supplier PELINDO IV

Pada lain sisi, pandemi telah mempercepat penyerapan teknologi dalam bisnis UKM. UKM berupaya untuk fokus pada transformasi digital sebagai cara untuk mendorong arus pemasukan mereka secara online di tengah pandemi.

65 persen dari UKM yang disurvei menyatakan teknologi merupakan investasi utama mereka dengan prioritas untuk membangun kemampuan dalam layanan dan penjualan digital. Tanah & Bangunan (49 persen) serta pengembangan keahlian karyawan (43 persen) merupakan opsi investasi UKM lainnya.

Dengan 57 persen UKM optimis dengan keadaan ekonomi ketika wabah mereda, langkah UKM berinvestasi pada teknologi akan memberikan cara-cara baru bagi individu dan bisnis dalam beroperasi, bekerja, hidup dan bermain serta membantu UKM untuk bertahan di tengah kompetisi.(wa)

Baca artikel terbaru Sulselpedia di Google News