SULSELPEDIA, SIDRAP – Sirkuit Puncak Mario menjadi saksi bisu betapa tangguhnya skutik harian saat dipaksa bekerja di batas maksimal.
Dalam gelaran Yamaha Cup Race (YCR) 2026, Minggu (19/4/2026), kelas baru GEAR ULTIMA Endurance resmi mencuri panggung dan membuat decak kagum para penonton yang memadati sirkuit sepanjang 3,2 kilometer tersebut.
Bukan sekadar balap sprint biasa, kelas ini menjadi ajang pembuktian durabilitas ekstrem. Menggunakan unit standar langsung dari *showroom*, GEAR ULTIMA dipaksa “disiksa” selama satu jam penuh tanpa henti di lintasan teknis yang menguras tenaga mesin dan performa komponen.
Uji Nyali dan Mesin: Satu Jam Tanpa Ampun
Berbeda dengan kelas konvensional, GEAR ULTIMA Endurance mengusung format balap ketahanan. Satu motor dikendarai oleh dua pembalap secara bergantian setiap tujuh lap. Strategi ini tak hanya menguji kerja sama tim, tetapi juga konsistensi suhu mesin dan kekuatan transmisi.
Salah satu peserta GEAR ULTIMA Endurance, Andi Robbil, mengatakan pengalamannya menggunakan motor skutik di sirkuit balap sangat menyenangkan.
Ia menilai format endurance pada ajang balap kali ini memberikan gambaran nyata soal ketangguhan GEAR ULTIMA.
“Saya pengguna motor sport, tapi menggunakan GEAR ULTIMA di balapan kali ini betul-betul menyenangkan. Ternyata motor standar bisa dibawa balapan,” ujarnya.
Dengan aturan ketat—termasuk penalti jika melebihi batas 7 lap per pergantian—pemenang ditentukan oleh jumlah lap terbanyak. Hal ini memastikan bahwa motor harus tetap stabil dan kompetitif dari menit pertama hingga bendera finish dikibarkan.
Filosofi Tahan Banting: Dari Jalan Raya ke Lintasan Balap
Kehadiran kelas ini merupakan langkah berani dari Yamaha untuk menunjukkan bahwa motor harian mereka tidak hanya menang di tampilan, tapi juga tangguh secara mekanikal.
Frits Yohanes, Assistant General Manager CS Division PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), menegaskan bahwa balapan ini adalah laboratorium hidup bagi teknologi Yamaha.
“Kami hadirkan kelas baru Gear Ultima Endurance khusus untuk menguji ketangguhan motor. Dengan spek standar pabrik, motor ini dituntut tetap kompetitif sekaligus tahan banting di lintasan balap sesungguhnya,” pungkas Yohanes.(*)




