OPINI  

Senioritas: Pembunuh Nalar Kritis

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Opini, Sulselpedia.com – Stratifikasi sosial merupakan hal yang niscaya dalam kehidupan manusia. Stratifikasi sosial berfungsi untuk mempertegas kedudukan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. Dengan kata lain stratifikasi sosial dapat memberikan kuasa legitimitatif kepada suatu kelompok sosial tertentu, tergantung pada posisinya dalam stratifikasi sosial tersebut.

Dalam kehidupan kampus, kita mungkin sudah akrab dengan istilah senior dan junior. Dikotomi ini tidak hanya menunjukkan perbedaan tingkatan mahasiswa secara administratif, tetapi lebih jauh, dikotomi senior junior menjadi representasi kedudukan dalam stratifikasi sosial kehidupan kampus. Seringkali kita dapati mahasiswa yang berstatus junior harus membungkuk-bungkukkan badannya saat berbicara dengan mahasiswa lain yang berstatus senior dengan dalih untuk berlaku sopan santun. Sementara disisi yang lain cara berbicara senior kepada junior yang -bisa dikatakan- jauh dari kata sopan tidak dianggap menjadi sebuah masalah. Tidak berhenti sampai disitu,senior sebagai kelas sosial dalam kehidupan kampus juga mampu melegitimasi kekerasan yang dilakukan terhadap junior. Sebut saja kasus yang terjadi pada 10 Januari lalu, yaitu tewasnya Amirullah Adityas Putra, taruna tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, karena dianiaya oleh seniornya.                                                                   

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana stratifikasi sosial ini menjadi niscaya dan dikotomi senior-junior menjadi penanda suatu kelas sosial di dalam kampus?.

Salah satu penyebabnya adalah karena adanya persuasi yang secara sadar maupun tidak sadar kita terima akan tugas dan kedudukan kelas sosial kita. Carole wade dan Carole Travis menyatakan dalam bukunya Psychology, 9ͭ ͪ Edition bahwa ada dua jenis persuasi dalam masyarakat. Persuasi yang koersif dan persuasi yang bersahabat. Dalam penelitiannya mengenai sekte agama, politik, dan bentuk kelompok lainnya telah berhasil mengidentifikasi beberapa proses yang terjadi dalam persuasi yang koersif. Salah satunya adalah pembentukan identitas kelompok. Dalam menciptakan identitas kelompok sifat-sifat ke-diri-an kelompok ini kemudian dibentuk dan difiksasi. Sehingga ketika menunjuk pada satu kelompok sosial tertentu, kita kemudian dapat mengetahui sifat-sifat apa yang melekat pada kelompok tersebut. Semisal pada permasalahan diatas, sifat ke-diri-an senior yang melekat adalah: senior berada diatas junior, junior harus berlaku sopan santun, dsb.

Sedangkan dalam persuasi bersahabat, Carol dan Travis mengemukakan sebuah fenomena yang bernama efek validitas (validity effect), yaitu kecenderungan orang untuk percaya bahwa sesuatu benar adanya karena ditampilkan berulang-ulang. Ulangi sesuatu dengan cukup sering, bahkan walaupun ini merupakan sebuah kebohongan yang sangat mendasar, dan masyarakat akan mulai mempercayainya. Hitler menyebut teknik ini dengan istilah “Big lie”. Cara kerja seperti ini sangat sering diterapkan dalam kehidupan kampus. Kita akrab menyebutnya sebagai “Doktrin senior”. Doktrin senior seringkali kita dapati di sebarkan dalam ruang-ruang diskusi ataupun percakapan ringan dengan junior. Kerap kali junior apalagi yang notabene baru merasakan dunia kampus (baca: mahasiswa baru) percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan senior. Sehingga mudah saja bagi senior untuk menanamkan imaji-imaji tentang superioritas senior terhadap junior.

Matinya nalar kritis menjadi konsekuensi logis akibat langgengnya kekerasan kultural ini. Junior akan takut untuk membuka ruang diskusi dengan senior. Sedangkan senior akan menjadi anti kritik terhadap juniornya. Padahal tingkat kecerdasan seseorang tidak ditentukan dari umur maupun tingkatan semester seseorang. Senada dengan yang dikatakan oleh John Horn seorang psikolog asal Amerika bahwa kecerdasan individu dibagi menjadi dua jenis yaitu: Kecerdasan cair (Fluid Intelligence)dan kecerdasan Kristal (Crystaled Intelligence). Kecerdasan cair berbasis pada kecerdasan biologis sedang kecerdasan Kristal berbasis pada pengalaman hidup seseorang. Artinya bahwa tidak peduli seberapa tua seseorang, tidak peduli seberapa tinggi semester seseorang, kecerdasan tidak melulu bicara soal kondisi biologis seseorang tetapi juga berbicara tentang pengalaman hidup dan memaknai hidup.

Terakhir, budaya senioritas merupakan benalu yang terus-menerus mengancam kehidupan demokratis dalam kampus, selama budaya ini masih ada kehidupan kampus yang demokratis dan dialogis antar mahasiswa (senior-junior) hanya akan terus berada diangan-angan.

Sumber:

Penulis: Muh. Wahyu Setiawan (Mahasiswa Psikologi angkatan 2015)

Baca artikel terbaru Sulselpedia di Google News