IHSG Terkoreksi Akibat Gejolak Global, Jumlah Investor Pasar Modal RI Tembus 32,17 Juta

Ilustrasi IHSG.(IST)

SULSELPEDIA — Pasar saham domestik mengalami penyesuaian sepanjang September 2026 seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan global yang dipicu oleh eskalasi geopolitik dan tren suku bunga tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.071,14, terkoreksi 6,96 persen secara bulanan (month-to-month).

Aksi lepas saham oleh investor asing (net sell) tercatat mencapai Rp10,24 triliun pada September 2026. Kendati demikian, OJK memastikan bahwa tingkat likuiditas dan resiliensi pasar modal Indonesia masih tergolong aman dan terkendali (manageable).

“Meskipun dinamika global menekan IHSG, partisipasi masyarakat lokal di pasar modal justru mencatatkan rekor pertumbuhan yang luar biasa,” kata OJK dalam keterangannya dikutip Selasa (6/10/2026).

Baca Juga :  Apresiasi BEI dalam Sinergi dan Kolaborasi Pasar Modal untuk Negeri

Investor Pasar Modal Tumbuh 57,96 Persen

Hingga akhir September 2026, jumlah investor di pasar modal Indonesia melonjak 57,96 persen secara year-to-date (ytd) hingga menembus 32,17 juta investor. Khusus pada bulan September saja, terdapat penambahan 1,03 juta investor baru.

Lonjakan partisipasi ini didorong oleh masifnya digitalisasi layanan pasar modal serta hadirnya berbagai produk investasi anyar yang lebih terjangkau.

Baca Juga :  Apa Itu Alimama? Simak Penjelasannya Berikut Ini

Salah satunya adalah instrumen ETF Emas yang diluncurkan sejak Agustus 2026. Hingga kini, telah terbit 7 produk ETF Emas dari 7 Manajer Investasi dengan total dana kelolaan mencapai Rp105,63 miliar. Selain itu, penghimpunan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) untuk pelaku UMKM juga telah mengumpulkan dana sebesar Rp2,06 triliun.

Penghimpunan Dana Korporasi Tetap Tinggi

Dari sisi korporasi, minat perusahaan untuk menggalang dana melalui pasar modal tetap tinggi. Total nilai Penawaran Umum hingga September 2026 telah mencapai Rp186,03 triliun, yang terdiri dari IPO saham, penawaran terbatas, dan penerbitan obligasi/sukuk.

Baca Juga :  Ekonomi Sulsel Kian Solid, Aset Perbankan Tembus Rp214,32 Triliun per Juni 2026

“Saat ini, OJK mencatat masih ada 29 rencana Penawaran Umum dalam daftar penawaran (pipeline) dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun,” catat OJK.

OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan, menjaga keterbukaan informasi, serta memberikan sanksi tegas bagi pelanggar aturan guna melindungi investor ritel yang jumlahnya terus bertambah.(*)

Baca artikel terbaru Sulselpedia di Google News