OPINI  

English for Marine Tourism: Mengglobal dengan Bahasa Inggris, Melayani dengan Kearifan Lokal Bugis

SULSELPEDIA, OPINI – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan wisata bahari yang luar biasa. Dari pantai berpasir putih, terumbu karang, pulau-pulau kecil, hingga kekayaan budaya masyarakat pesisir, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata dunia. Namun, di balik keindahan alam tersebut, terdapat satu aspek yang tidak boleh diabaikan: kemampuan sumber daya manusia dalam berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara.

Keindahan destinasi memang dapat menarik wisatawan untuk datang, tetapi kualitas pelayanan dan pengalaman komunikasi dapat menentukan kesan mereka selama berkunjung. Seorang pemandu wisata mungkin mengenal setiap sudut pantai, memahami karakteristik laut, dan mengetahui sejarah budaya setempat. Akan tetapi, ketika wisatawan asing bertanya tentang keselamatan perjalanan, meminta informasi destinasi, atau menyampaikan keluhan, kemampuan menjelaskan dan memberikan respons dalam bahasa Inggris menjadi sangat penting.

Di sinilah kebutuhan terhadap English for Marine Tourism menjadi relevan. Lebih dari sekadar mengajarkan bahasa internasional, pengembangan komunikasi pariwisata bahari seharusnya juga menjadi ruang untuk memperkenalkan keramahan dan identitas budaya Indonesia kepada dunia.

Bahasa Inggris bukan sekadar kemampuan berbicara

Dalam konteks pariwisata bahari, bahasa Inggris tidak cukup dipahami sebagai penguasaan kosakata dan tata bahasa. Pelaku wisata membutuhkan kemampuan komunikasi yang sesuai dengan situasi pelayanan. Mereka harus mampu menyambut wisatawan, memberikan informasi tentang destinasi, menjelaskan aktivitas snorkeling atau perjalanan perahu, menyampaikan instruksi keselamatan, menawarkan bantuan, serta menangani keluhan secara santun dan profesional.

Tantangan yang sering muncul bukan hanya ketidakmampuan memahami pertanyaan wisatawan, melainkan juga kesulitan memilih ungkapan yang tepat ketika harus memberikan respons secara spontan. Misalnya, bagaimana menyampaikan permohonan maaf ketika perjalanan perahu terlambat? Bagaimana menjelaskan perubahan jadwal akibat kondisi cuaca? Bagaimana mengingatkan wisatawan untuk menggunakan jaket keselamatan tanpa terkesan memerintah?

Situasi-situasi tersebut membutuhkan materi bahasa Inggris yang kontekstual, praktis, dan dekat dengan pekerjaan sehari-hari pelaku wisata. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris perlu diarahkan pada kemampuan berkomunikasi dalam situasi nyata, bukan hanya memahami struktur bahasa.

Apa yang diungkapkan oleh penelitian?

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan Pocket Guide to English for Marine Tourism: Practical Expressions and Conversations for Hospitality and Cultural Respect. Melalui penelitian analisis kebutuhan yang melibatkan 24 profesional pariwisata bahari, ditemukan bahwa kebutuhan pengembangan keterampilan berbicara masih cukup menonjol. Sebanyak 58,3% responden menyatakan membutuhkan tambahan pelatihan berbicara bahasa Inggris.

Baca Juga :  Poros Timur Circular Economy

Penelitian tersebut juga menunjukkan beberapa tantangan komunikasi di tempat kerja. Sebanyak 41,7% responden mengalami kesulitan dalam pelafalan, 37,5% menghadapi kesulitan memilih ungkapan yang tepat, dan 41,7% mengalami kendala ketika menangani keluhan wisatawan. Selain itu, 33,3% responden menyampaikan kesulitan dalam komunikasi lintas budaya, sedangkan 50% menilai ketersediaan materi bahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masih belum memadai.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pengembangan materi bahasa Inggris untuk pariwisata bahari perlu bergerak melampaui pendekatan pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan kosakata. Materi perlu menghadirkan percakapan autentik, latihan bermain peran (role-play), simulasi pelayanan, dan contoh respons yang dapat langsung diterapkan dalam interaksi dengan wisatawan.

Menariknya, 91,7% responden memberikan tanggapan positif terhadap integrasi nilai-nilai hospitalitas Bugis dalam materi komunikasi pariwisata. Temuan ini memperlihatkan bahwa bahasa Inggris dan budaya lokal tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya justru dapat saling memperkuat.

Menghubungkan bahasa Inggris dengan kearifan lokal Bugis

Salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan dalam English for Marine Tourism Guide adalah integrasi nilai hospitalitas Bugis, yaitu Sipakatau, Siri’, dan Taro Ada Taro Gau. Ketiga nilai tersebut bukan sekadar identitas budaya, melainkan dapat menjadi landasan etika dalam membangun komunikasi pelayanan yang menghargai manusia, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.

  1. Sipakatau: Menghormati dan memanusiakan wisatawan

Sipakatau mengandung nilai penghormatan terhadap sesama manusia. Dalam konteks pelayanan pariwisata, nilai ini mengajarkan bahwa setiap wisatawan harus diperlakukan dengan hormat tanpa membedakan asal negara, bahasa, latar belakang, maupun kebudayaannya.

Penerapannya dapat terlihat melalui cara menyambut wisatawan dengan ramah, mendengarkan pertanyaan secara saksama, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan respons yang santun. Ketika wisatawan menyampaikan keluhan, pelaku wisata tidak seharusnya langsung bersikap defensif, tetapi perlu menunjukkan empati dan kesediaan membantu.

Misalnya, ungkapan “We sincerely apologize for the inconvenience. How can we assist you?” bukan hanya menunjukkan kemampuan menggunakan bahasa Inggris, tetapi juga mencerminkan sikap menghargai dan memperlakukan wisatawan sebagai manusia yang perlu didengarkan.

  1. Siri’: Menjaga kehormatan melalui tanggung jawab pelayanan

Siri’ merupakan nilai yang berkaitan dengan harga diri, kehormatan, dan tanggung jawab. Dalam pelayanan pariwisata bahari, nilai ini dapat diwujudkan melalui kesungguhan menjaga keselamatan wisatawan, memberikan pelayanan yang bertanggung jawab, serta menjaga nama baik masyarakat dan destinasi.

Baca Juga :  Selamat Hari Pendidikan Nasional

Sebagai contoh, seorang pemandu wisata harus mampu menjelaskan prosedur keselamatan sebelum wisatawan melakukan aktivitas snorkeling atau menaiki perahu. Ia juga harus berani menyampaikan informasi mengenai risiko perjalanan apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan.

Ungkapan seperti “Your safety is our priority. Please wear your life jacket before boarding the boat” menunjukkan bahwa komunikasi bahasa Inggris tidak hanya berfungsi menyampaikan instruksi, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab terhadap keselamatan pengunjung.

Dengan demikian, Siri’ dapat menjadi landasan untuk membangun profesionalisme dan kepercayaan wisatawan terhadap pelayanan yang diberikan.

  1. Taro Ada Taro Gau: Konsistensi antara perkataan dan tindakan

Taro Ada Taro Gau mengajarkan pentingnya kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Dalam industri pariwisata, prinsip ini sangat penting karena kepercayaan wisatawan dibangun melalui informasi yang benar dan pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika menjelaskan harga paket wisata, fasilitas, durasi perjalanan, maupun kondisi destinasi, pelaku wisata harus memastikan bahwa informasi yang disampaikan sesuai dengan kenyataan. Janji pelayanan juga harus diikuti dengan tindakan nyata.

Misalnya, apabila pemandu menyampaikan bahwa perjalanan menuju sebuah pulau membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, informasi tersebut harus didasarkan pada kondisi perjalanan yang sebenarnya. Jika terdapat perubahan jadwal akibat cuaca, wisatawan perlu memperoleh penjelasan secara terbuka dan jujur.

Prinsip ini mengingatkan kita bahwa komunikasi profesional tidak cukup hanya terdengar meyakinkan. Informasi yang disampaikan harus benar, konsisten, dan dapat dipercaya.

Ketiga nilai tersebut memperlihatkan bahwa kearifan lokal Bugis memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan komunikasi pariwisata modern. Sipakatau membangun penghormatan, Siri’ meneguhkan tanggung jawab, sedangkan Taro Ada Taro Gau memperkuat kejujuran dan konsistensi pelayanan. Ketiganya dapat menjadi fondasi hospitalitas yang tidak kehilangan identitas budaya meskipun disampaikan melalui bahasa internasional.

Dari buku panduan menuju peningkatan kualitas pelayanan

Kehadiran English for Marine Tourism Guide diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk menjembatani kebutuhan komunikasi pelaku wisata dengan tuntutan pelayanan pariwisata bahari. Panduan ini dirancang dengan menghadirkan situasi komunikasi yang dekat dengan pekerjaan, contoh ungkapan praktis, dialog, serta aktivitas berbicara yang dapat digunakan untuk belajar secara mandiri maupun dalam pelatihan kelompok.

Baca Juga :  Senioritas Merupakan Feodalisme yang Menyamar

Sepuluh bagian utama dalam panduan tersebut mencakup pengenalan layanan pariwisata bahari, penyambutan wisatawan, pemberian informasi destinasi, pengenalan budaya lokal, instruksi keselamatan, penanganan keluhan, komunikasi lintas budaya, pariwisata berkelanjutan, penceritaan dan promosi destinasi, serta komunikasi pelayanan wisata terpadu.

Salah satu aspek penting dari panduan ini adalah upaya menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari pengalaman komunikasi. Ketika seorang pemandu menjelaskan tradisi masyarakat pesisir, memperkenalkan kuliner khas, menceritakan sejarah perahu tradisional Pinisi, atau menjelaskan nilai keramahan masyarakat Bugis, ia tidak sekadar memberikan informasi wisata. Ia sedang memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.

Dalam konteks ini, bahasa Inggris menjadi jembatan komunikasi, sedangkan kearifan lokal menjadi isi dan karakter yang membedakan pengalaman wisata Indonesia dari destinasi lainnya.

Namun, keberadaan buku panduan tentu bukan solusi tunggal. Implementasinya perlu didukung oleh pelatihan berkelanjutan, pendampingan bagi pelaku usaha, kolaborasi perguruan tinggi dengan komunitas pariwisata, serta keterlibatan pemerintah daerah. Materi juga perlu dikembangkan agar mudah diakses, dipelajari secara fleksibel, dan sesuai dengan kondisi pelaku wisata di berbagai wilayah kepulauan.

Mengglobal tanpa kehilangan identitas budaya

Pada akhirnya, pembangunan pariwisata bahari tidak cukup hanya berorientasi pada promosi keindahan alam dan peningkatan jumlah kunjungan. Investasi pada kualitas sumber daya manusia, termasuk kemampuan komunikasi bahasa Inggris, merupakan bagian penting dari keberlanjutan sektor ini.

Kita perlu membangun kesadaran bahwa menjadi destinasi wisata berkelas dunia bukan berarti harus meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, kekuatan pariwisata Indonesia justru terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman internasional yang tetap berakar pada budaya dan keramahan masyarakat setempat.

Laut Indonesia memiliki cerita, budaya, dan keramahan yang layak dikenal dunia. Akan tetapi, cerita tersebut membutuhkan manusia yang mampu menyampaikannya dengan baik. Melalui penguatan English for Marine Tourism berbasis kearifan lokal Bugis, kita tidak hanya membantu pelaku wisata berbicara dalam bahasa internasional, tetapi juga memastikan bahwa nilai Sipakatau, Siri’, dan Taro Ada Taro Gau tetap hidup dalam praktik pelayanan sehari-hari.

Sebab, destinasi yang indah mungkin membuat wisatawan datang, tetapi komunikasi yang berkualitas, tanggung jawab pelayanan, dan keramahan yang berakar pada kearifan lokal akan memberikan pengalaman yang membuat mereka ingin kembali.(*)

(*) PENULIS: Dr. Widya Rizky Pratiwi

Baca artikel terbaru Sulselpedia di Google News