Di Belakang Meja

Kebanyakan tugas dalam suatu pekerjaan selalu menempatkan saya di belakang meja kerja, depan layar komputer jinjing. Kalaupun ada tugas lapangan, saya tetap dapat tugas tambahan untuk mengerjakan sesuatu di depan komputer.

Jika ditanya, mengapa seperti itu, saya tidak punya jawaban pasti. Tapi, saya selalu kepikiran satu orang, yang sebenarnya asing, kami bahkan tidak saling kenal. Baik, begini ceritanya.


Saya masih kelas empat sekolah dasar dan tinggal di rumah nenek. Waktu itu liburan sekolah dan saya dalam perjalanan sekira empat jam. Menumpang minibus milik paman menuju rumah orang tua saya.

Kami singgah beristirahat di sebuah kedai setelah melalui dua jam perjalanan dan meninggalkan batas kabupaten tempat nenek tinggal. Kedai itu berdiri di tepi jalan provinsi, letaknya di ibukota kabupaten lain, terselip di antara leretan rumah toko. Dari kedai itu, masih harus melewati satu kotamadya untuk tiba ke kabupaten tempat orang tua saya tinggal.

Pemilik kedai ini seorang perempuan paruh baya keturunan Tionghoa. Saya tidak tahu siapa namanya, tapi paman dan pelanggan lain memanggilnya Cici.

Jika saya menumpang minibus paman dan melalui jalan provinsi, pasti kami singgah di tempat ini. Kedai yang buka sejak pagi dan hanya menjajakan dua jenis minuman hangat. Atau mungkin hanya dua minuman itu yang sering dipesan para pelanggan. Teh hangat, bisa pakai kental manis atau gula. Dan kopi susu, yang rasanya baru saya ingat setelah jadi mahasiswa, ketika mencoba kopi phoenam. Rasa pahit dan manisnya berada di batas yang tepat untuk selera saya.

Mungkin ada kopi hitam dengan atau tanpa gula juga di kedai Cici, tapi saya tidak pernah menemukan ada pelanggan yang memesannya jika singgah di sana. Biasanya ada kue-kue tradisional juga untuk teman minum kopi, saya biasanya memakan kue kukus yang manis atau panada (semacam perpaduan pastel dan roti).

Jika dihitung, mungkin sudah dua atau tiga kali saya singgah di kedai itu bersama paman. Tapi kali ini berbeda. Mata Cici mengikuti saya sejak memasuki kedai. Dia duduk di depan meja kasir, mengenakan pakaian lengan pendek berenda, dan rok selutut berwarna hitam. Saya yang sadar sedang diperhatikan tentu merasa bingung dan canggung. Untuk mengatasi rasa canggung, saya melempar senyuman pada Cici, dia balas tersenyum.

Dan begitulah, ketika saya dan paman bersiap untuk melanjutkan perjalanan dan menghampiri Cici untuk membayar, dia mengatakan ini.

“Anak ini nanti, pasti kerjanya di belakang meja” kata Cici, menunjuk saya dengan dagu.
“Dengar tuh, Cici ini orang pintar. Jago dia liat orang” timpal paman.

Saya rasa, gelar pintar yang paman berikan ke Cici mengacu pada sesuatu yang mistis. Sulit bagi saya di umur itu untuk tidak memikirkannya. Dalam rentang dua minggu masa liburan, saya selalu membayangkan apa yang perempuan itu katakan. Tapi, “ingatan tidak setia” seperti kata dosen saya. Ketika liburan berakhir dan harus kembali ke rutinitas sekolah, saya pelan-pelan melupakan Cici dan ramalannya.


Cici kembali dalam ingatan saya, ketika berakhir mengerjakan koding penelitian atau mentranskripsi data wawancara setelah lulus kuliah. Hal serupa berlaku untuk pekerjaan di belakang meja lainnya.

Logika mistis adalah batas yang saya tetapkan untuk menyusun dugaan. Tapi, sebuah ramalan akhirnya membawa saya ke sana. Dan pikiran mistis itu makin dekat setelah ramalan terwujud.

Rasa ingin tahu saya menguat dan pertanyaan mulai muncul. Bagaimana Cici melakukan itu? Dugaan mistis menggerakkan saya mencari jawaban. Namun sial, saya tidak kenal satupun ‘orang pintar’ untuk diwawancarai.

Saya tidak ingin menyerah. Saya harus berkeliling ke desa-desa yang ditinggali ‘orang pintar’. Sial, saya baru ingat. Situasi keuangan saya sedang krisis. Saya juga terlalu pengecut untuk keluar rumah karena takut tertular.

Masih ada jalan. Saya punya beberapa buku teks psikologi peninggalan zaman kuliah dulu. Kali saja ada yang membahas soal ramalan. Jika jawabannya tidak ada di buku. Menguji keberuntungan di mesin telusur layak dicoba. Mungkin ada yang berminat pada pada misteri ramalan seperti saya.

Sepertinya keberuntungan saya belum habis. Buku dan mesin telusur punya jawabannya. Baik, ini dia dua kemungkinan penjelasan yang saya temukan.


Kemungkinan pertama adalah ‘ramalan swawujud’. Robert K Merton seorang sosiolog menjelaskannya dalam sebuah situasi fiksi. Ada seseorang yang mengatakan bahwa sebuah bank akan bangkrut. Orang-orang yang mendengarnya, secara sadar atau tidak, mempercayainya dan ketakutan. Mereka yang terpengaruh akan menarik uangnya dari bank. Dan secara sistematis, seperti sebuah ramalan yang terwujud, bank benar-benar bangkrut.

Dalam kasus Cici, perkataannya akan tertanam dalam pikiran saya. Saya meyakininya akan terjadi. Secara sistematis saya akan mengambil pilihan dan sejumlah tindakan untuk mewujudkan ramalan itu. Lalu secara mengejutkan, ramalan benar-benar terwujud.

Situasi ini mirip pernyataan Einstein bahwa setiap orang jenius, tapi jika seekor ikan dinilai dari kemampuannya untuk memanjat pohon, maka seumur hidupnya ia percaya bahwa dirinya bodoh.

Kemungkinan kedua, Cici secara harfiah benar-benar ‘orang pintar’. Namun bukan dalam konteks yang mistis. Seorang jurnalis, namanya Malcom Gladwell, merangkum temuan tentang banyak pakar. Seorang kurator yang dapat mengenali sebuah karya seni palsu hanya dengan sekali lihat. Atau seorang administrator yang mampu mendeteksi kesalahan berkas tanpa membaca. Itu adalah tahap kepakaran paling tinggi menurut Gladwell. Dimana seorang pakar mampu melakukan keahliannya tanpa berpikir lagi. Hasil dari pengulangan respon yang persisten. Buah pengalaman selama ratusan bahkan ribuan jam.

Bayangkan Cici. Dia duduk di depan meja kasirnya selama beberapa jam dalam sehari, setiap hari selama belasan tahun. Bertemu dengan orang-orang dari berbagai profesi. Beberapa pelanggan mungkin terus datang selama beberapa generasi. Cici mengamati mereka, mengikuti perkembangannya, dan mengumpulkan semua informasi itu dalam kepala. Sampai suatu hari, seorang anak datang bersama pamannya. Dia mengingat anak lain yang pernah datang di kedainya beberapa tahun lalu dan sekarang duduk di belakang meja direktur sebuah perusahaan tambang.

Anak yang baru saja datang memiliki ciri-ciri serupa, dengan anak yang datang bertahun-tahun lalu. Kemiripan ciri-ciri ini membawa Cici pada kesimpulan, kedua anak ini berada di jalur yang sama. Itu tidak sepenuhnya akurat. Saya memang berakhir dalam pekerjaan di belakang meja. Tapi bukan sebagai direktur. Hanya pekerja lepas tanpa posisi penting yang diupah untuk mengolah data.


Ini menyenangkan. Merenungkan pengalaman, merasa penasaran dan menemukan jawaban. Lalu menulis semuanya dengan keterampilan analisis seadanya. Saya berpikir untuk melanjutkan kegiatan ini bahkan setelah pandemi berlalu.

Membayangkan saya melakukan kegiatan ini di kedai Cici membuat saya bersemangat. Apakah dia masih mengingat saya? Anak yang dia ramal beberapa tahun lalu. Semoga dia masih sehat, dan kami dapat bertemu lagi.(*)

(*) Penulis: Alumni Psikologi UNM. Shany Kasysyaf.

Baca artikel terbaru Sulselpedia di Google News