Hilirisasi Pertanian Jadi Sektor Kunci Perekonomian Sulsel di Masa Depan

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Wahyu Purnama (tengah) saat menjadi pembicara dalam diskusi Hilirisasi Pertanian dan Ekonomi Biru Sulsel di Hotel Claro, Makassar, Senin (8/12/2025).(Foto: Istimewa)

SULSELPEDIA – Hilirisasi pertanian dan ekonomi biru diyakini dapat menjadi sektor kunci dalam penguatan ekonomi Sulsel ke depan.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Wahyu Purnama, dalam diskusi Hilirisasi Pertanian dan Ekonomi Biru Sulsel di Hotel Claro, Makassar, Senin (8/12/2025).

Menurutnya, hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah sebuah produk. Maka dari itu, perlu dilakukan percepatan, terutama dengan menyasar komoditas yang selama ini menjadi andalan Sulsel di sektor pertanian dan perikanan.

“Hilirisasi perlu dipercepat agar sektor ini tidak hanya menjual bahan mentah tapi produk yang telah diolah,” kata Wahyu.

Baca Juga :  Perekonomian Sulsel Diterjang Badai Corona

Salah satu upaya yang dilakukan BI Sulsel adalah dengan mendorong UMKM melakukan ekspor melalui program Rewako UMKM. Di Sulsel, UMKM masih menjadi tulang punggung ekonomi.

“UMKM kita beberapa sudah melakukan hilirisasi karena produk-produk yang diekspor bukan lagi produk mentah atau setengah jadi, tapi sudah melalui proses hingga menjadi sebuah produk bernilai tinggi,” ungkapnya.

Hanya saja, Wahyu menilai produktivitas hilirisasi di Sulsel masih kurang. Tingginya jumlah barang yang masuk di Sulsel masih lebih banyak dibandingkan yang dikirim keluar.

Baca Juga :  Pemprov Sulsel Targetkan Stunting Turun 14 Persen di Tahun 2024

“Ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi menuju hilirisasi,” ujarnya.

Tantangan lain hilirisasi pertanian di Sulsel terletak pada sumber daya manusia. Tak sedikit petani berusia lanjut, sementara minat generasi muda ke sektor pertanian masih rendah.

“Situasi ini berdampak pada rendahnya mekanisasi dan digitalisasi serta berkurangnya lahan pertanian,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW ALFI/ILFA Sulselbar, Yodi Narendra, menyebut fokus dari hilirisasi adalah peningkatan nilai barang.

“Meski ada 10 kontainer barang mentah atau setengah jadi yang bisa di bilang lebih banyak dari segi kuantitas, tapi nilainya dari hasil hilirisasi ini, meski 1 kontainer saja lebih tinggi dari 10 kontainer tadi,” jelasnya.

Baca Juga :  Yamaha Bagikan Tips Berkendara dengan Prinsip Safety Riding Tapi Bisa Tetap Gaya

Hingga November 2025, ia mengungkapkan arus barang in out dari pelabuhan Makassar sekitar 700 ribu teus, sementara untuk ekspor impor hanya 8.000 teus.

“Perdagangan Makassar didominasi domestik in. Mayoritas diambil dari Pulau Jawa. Seperti air mineral, meski kita di sini punya produk lokal,” bebernya.

“Jadi peluang kita sebenarnya masih sangat terbuka, baik domestik maupun internasional,” imbuhnya.

Ia menilai tantangan hilirisasi cukup kompleks. Butuh industri, serta perangkatnya harus jelas dan kuat.(why/sp)

Baca artikel terbaru Sulselpedia di Google News