Sulselpedia.com – Kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Selama ini, bentuk kekerasan sering kali dipahami sebatas tindakan fisik. Padahal, kekerasan verbal yang dilakukan melalui ucapan, intonasi, maupun ekspresi bernada merendahkan juga memiliki dampak yang tidak kalah berbahaya, khususnya terhadap perkembangan mental dan psikologis anak.
Kekerasan verbal kerap terjadi tanpa disadari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang sosial lainnya. Karena tidak menimbulkan bekas luka secara fisik, bentuk kekerasan ini sering dianggap wajar atau bagian dari pola asuh. Namun, berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa kekerasan verbal dapat meninggalkan luka emosional yang bersifat jangka panjang.
Pengertian Kekerasan Verbal pada Anak
Kekerasan verbal terhadap anak adalah tindakan yang dilakukan melalui kata-kata atau sikap komunikasi yang bersifat menyakiti, merendahkan, mengancam, atau mempermalukan anak. Bentuknya dapat berupa teriakan, hinaan, ejekan, pemberian label negatif, hingga membandingkan anak secara tidak sehat dengan anak lain.
Ucapan seperti “kamu bodoh”, “tidak berguna”, atau “selalu membuat masalah” merupakan contoh kekerasan verbal yang dapat mengikis rasa aman dan kepercayaan diri anak. Apabila dilakukan secara berulang, tindakan ini berpotensi mengganggu perkembangan kepribadian dan kesehatan mental anak secara menyeluruh.
Dampak Psikologis Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dampak kekerasan verbal tidak selalu muncul secara instan. Pada tahap awal, anak mungkin menunjukkan perubahan perilaku yang dianggap sepele, namun seiring waktu dapat berkembang menjadi masalah psikologis yang lebih serius.
1. Menurunnya Rasa Percaya Diri
Anak yang sering menerima perlakuan verbal negatif cenderung tumbuh dengan citra diri yang buruk. Mereka merasa tidak mampu, tidak layak dihargai, dan ragu dalam mengambil keputusan.
2. Gangguan Emosi dan Mental
Kekerasan verbal berkontribusi terhadap munculnya gangguan kecemasan, stres berlebihan, hingga depresi pada anak. Dalam beberapa kasus, anak menjadi lebih mudah tersinggung, menarik diri dari lingkungan sosial, atau menunjukkan perilaku agresif.
3. Hambatan dalam Proses Belajar
Tekanan psikologis akibat kekerasan verbal dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi dan motivasi belajar. Anak menjadi kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapat dan takut melakukan kesalahan.
4. Risiko Masalah Perilaku di Masa Depan
Anak yang terbiasa menerima kekerasan verbal berisiko menormalisasi pola komunikasi tersebut. Ketika dewasa, mereka dapat mengulang perilaku serupa kepada orang lain, baik dalam hubungan sosial maupun keluarga.
Dalam konteks perlindungan anak, kekerasan verbal merupakan pelanggaran terhadap hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Edukasi dan informasi mengenai upaya perlindungan anak dapat diakses melalui https://kpai-probolinggo.com/ sebagai salah satu sumber rujukan.
Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan Verbal
Beberapa faktor yang memicu terjadinya kekerasan verbal terhadap anak antara lain tekanan ekonomi, kurangnya pemahaman tentang pola asuh positif, beban stres orang tua, serta budaya komunikasi yang masih mengedepankan kekerasan sebagai bentuk disiplin.
Selain itu, minimnya literasi tentang kesehatan mental anak juga menyebabkan banyak pihak belum menyadari bahwa kata-kata memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kepribadian anak.
Peran Orang Tua, Sekolah, dan Masyarakat
Pencegahan kekerasan verbal membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Orang tua memiliki peran utama dalam menciptakan lingkungan komunikasi yang aman dan suportif. Sementara itu, sekolah berperan sebagai ruang pendidikan yang harus menjunjung tinggi prinsip perlindungan anak.
Masyarakat juga diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan verbal yang dialami anak di sekitarnya. Dukungan lembaga perlindungan anak menjadi penting untuk memberikan pendampingan, edukasi, serta advokasi bagi korban. Informasi terkait peran dan fungsi lembaga perlindungan anak dapat ditemukan melalui https://kpai-probolinggo.com/.
Penutup
Kekerasan verbal terhadap anak bukanlah persoalan sepele dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Dampaknya yang bersifat jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan mental, kepribadian, dan masa depan anak. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan edukasi perlu terus diperkuat agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, menghargai, dan mendukung perkembangan mentalnya secara optimal.




